IG @ayo.kesumbarFollow Instagram Ayokesumbar

Kabupaten Tanah datar

Matahari bersinar terang saat media ini memulai perjalanan menyelusuri jejak penyebaran Islam di Kabupaten Tanahdatar. Sejarah telah mencatat bahwa Luhak Nan Tuo adalah pusat kebudayaan Minangkabau. Disana juga lahirnya istilah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK).

Sebelum istilah itu lahir ada cerita yang hidup di masyarakat terhadap istilah ABS-SBK ini. Konon ceritanya, istilah itu lahir setelah adanya sumpah sati antara kaum adat dan kaum agama di Bukit Marapalam. Sumpah sakti dilakukan untuk menyatukan persepsi antara kaum adat dan kaum agama. Kaum adat masih berpegang teguh dengan tradisi yang ada, sementara kaum agama menolak tradisi yang diyakini kaum adat, seperti sabung ayam, barambung dan minum-minuman tuak.

Titik penelusuran dimulai dari Kecamatan Lintau Buo. Pasalnya, di kecamatan itulah sumpah sakti Bukit Marapalam dilakukan. Menempuh perjalanan sekitar 35 km, media ini berjalan menyusuri jalan-jalan ?tikus?, menggali informasi pada masyarakat yang tinggal di sana. Sampai akhirnya menemukan petunjuk adanya makam Syekh Tuanku Kalumbuk. Cerita masyarakat sekitar menyebutkan, Syekh Angku Kalumbuk memiliki hubungan dengan Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman.

Guna mencari petunjuk kebenaran Syekh Tuangku Kalumbuk,  setelah menempuh perjalanan 1 km dengan berjalan kaki, sampailah pada tempat permukiman warga yang katanya termasuk dalam golongan Shathariyah. Daerah itu bernama jorong Taruro, Nagari Taluk, Kecamatan Lintau Buo.

Dimana shalat yang mereka lakukan sebanyak 40 rakaat.

Azra?i, laki-laki tua yang berumur sekitar 60 tahun menyapa dan mempersilahkan untuk singgah ke rumahnya. Ia masih keturunan dari  Syeh Muhammad Yatim Padang Mudik.  Dari dialah informasi  penyebaran islam didapatkan. Lelaki tua itu memperlihatkan silsilah dari  kaum Syatariyah.

Dalam urutan  itu tertera nama Syekh Burhanuddin pada urutan ke 27 , disusul  Syekh Ibrahim Padang Ganting, Syekh Angku Kandang  Biju Talang, Syekh Sawah Like Kinari Solok, Syekh Khili Salayo  Solok, Syekh Khasik Sumani, Syekh Sumani, Syeck cupak, Syeck Talawi, Muhammad Yatim Mudik Padang, Syekh Sidi Thawaf Sei Sarik dan Syekh Sidi Jalalen Sei Sarik.

Azra?i menuturkan Syekh  Ibrahim Padang Ganting merupakan teman mengaji dari Syekh Burhanuddin. Angku Kalumbuk Sendiri masih keturunan dari Syekh  Muhammad Yatim Mudik Padang. Setiap awal ramadhan dan lebaran banyak warga Pariaman yang berkunjung ke makam angku Kalumbuk.

?Biasanya mereka berziarah kesini. Saya selalu ingatkan pada peziarah agar meminta hanya kepada Allah,?ucapnya.

Ia juga mengatakan ia bersama keluarganyalah yang membiayai perawatan dari Makam Angku Kalumbuk. ?Tidak ada yang membantu saya dalam hal biaya perawatan makam ini. Biayanya saya juga dapatkan dari para peziarah dan kantong pribadi saya. Makam Angku Kalumbuk terdapat  dalam sebuah bangunan rumah, pada belakang rumah tertera angka 1749. warga disini sangat menghormati makam ini. Lihat saja arsitektur makam ini masih dengan gaya lama dan sangat khas sekali.  Makam Angku Kalumbuk juga dihiasi kelambu berwarna putih,? terangnya.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Padang Ganting mencari keberdaan Makam Syekh Ibrahim  Padang Ganting. Jarak antara Lintau buo dengan lokasi Jorong Gadang Hilir Padang Ganting sekitra 25 km. Tak banyak masyarakat yang tahu tentang Syekh Ibrahim, masyarakat lebih banyak mengenal Tuan Kadhi.

Makam Tuan Kadhi terletak  di jorong Koto Gadang hilir  Padang Ganting.  Orientasi makam mengarah utara-selatan. Nisannya berbentuk persegi panjang pipih dan lancip di bagian atas. Bahannya terbuat dari batu kapur  dan berhias petikan ayat ?ayat suci Alqur?an .Nisan bagian kaki berukuran  tinggi 90 cm. lebar 38 cm dan tebal 17 cm.

Masyarakat sekitar yang ditanyai juga tidak tahu persis tentang sejarah Tuan Kadhi semasa hidupnya. Informasi yang biasa didapatkan hanya Tuan Kadhi yang merupakan anggota Basa Nan Ampek Balai mengurus masalah agama.

Ani warga sekitar menyebutkan meskipun umurnya sudah 35 tahun ia sendiri tak tahu pasti tentang sejarah Tuan Kadhi. Sedari kecil dirinya tahu makam Tuan Kadhi adalah makam yang dikeramatkan masyarakat sekitar.

?Sejarahnya saya tidak tahu dik, kami pun disini juga ingin tahu bagaimana sejarah Tuan Kadi,? ungkapnya.

Andi, warga lainnya juga mengaku tak tahu pasti sejarah Tuan Kadhi. ?Saya juga tidak tahu sejarahnya meskipun saya ingin tahu siapa Tuan Khadi,? tuturnya.

Hari sudah menjelang sore, tak satupun masyarakat yang ditemui mengetahui sejarah Tuan Kadhi  dan kaitannya dengan Syekh Ibrahim Padang Ganting.  Puas bertanya dan berjalan akhirnya didapatkan juga lokasi makam Syekh Ibrahim Padang Ganting berada.  Makam Syekh  Ibraim  terletak ditengah sawah, dari jalan besar  kira-kira harus menempuh perjalanan sepanjang 800 meter.  Jalan ke makam Syekh Ibrahim  berlubang-lubang dan  harus melewati pematang sawah. Lokasi Makam itu tak jauh dari aliran batang ait Tepi Selo.

Bangunan cungkup  Makam Syekh Ibrahim Padang Ganting berupa tembok batu berlepa. Bentuk denahnya persegi empat berukuran 4x 4 m. Atapnya berbentuk kubah masjid. Makam yang berada di dalam cungkup tanpa jirat dan nisannya berupa lempengan batu berbentuk persegi.

Syekh Ibrahim adalah seorang ulama yang bernama Syeih abdul Manan Suku Sembilan rumah Batu dan berjiwa pembangunan. Konon menurut ceita  Guguk Cino ke Padang Ganting  dikerjakan secara  pribadi dan ditolong murid-muridnya serta Syekh Ibrahim juga dikabarkan membangun masjid Koto Gadang Padang Ganting (Masjid Suhada). Pada abab ke 16 Syekh  membuat makam di Batu Ladiang  langsung pakai gobah.  Syekh Ibrahim  diangkat menjadi pejabat Syekh (sebagai pimpinan ke Mekah) sampai akhirnya meninggal di Mekkah dan tidak jadi dimakamkan di Batu Ladiang.

Asril, warga menyebutkan makam yang berada di tengah sawah itu tidak terdapat jenazah makam Syekh Ibrahim. Makam tersebut bukan diperuntukan untuk dirinya (Syekh Ibrahim).

?Setahu saya Syekh Ibrahim membuat makam itu bukan disengaja untuk dirinya. Tak ada jenazah Syekh Ibrahim disana. Karena makam itu telah dibuat dan tidak ditempati maka ketika orang tua Syekh Ibrahim meninggal maka makam itu dijadikan tempat peristirahatannya. Nama bapak Syekh  Ibrahim adalah  Syeih Abdul Manan,? ungkapnya.(*)