IG @ayo.kesumbarFollow Instagram Ayokesumbar

Wisata Kuliner dari Padang ke Bukittinggi

Perjalanan wisata dari Padang ke Bukittinggi sudah menjadi hal biasa dilakukan banyak orang. Tapi melakukan perjalanan Padang – Bukittinggi khusus untuk mencicipi kuliner sepanjang perjalanan sedikit orang yang melakukannya. Termasuk saya sendiri yang seumur-umur baru melakukannya kemarin bersama dua orang teman. Kebetulan satu orang diantara kami adalah kolega dari Jakarta dan dia yang punya ide ini. Dari perjalanan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang wisata kuliner yang kami lakukan sepanjang perjalanan.

Perburuan makanan dimulai dari Padang sekitar pukul 12 siang dan sampai kembali ke Padang sekitar jam 8 malam. Jarak tempuh atau waktu yang dibutuhkan dari Padang ke Bukittinggi sekitar 2 – 3 jam. Tergantung kendaraan yang digunakan. Kendaraan bermotor, mobil rental atau bus umum memiliki kemampuan waktu tempuh yang berbeda. Kami kemarin berangkat dengan mobil rental di Padang.

Sebelum menuju Bukittinggi, dari pagi sampai siang kami keliling kota Padang dulu untuk suatu keperluan lain. Kami juga makan pagi menjelang siang dulu di rumah makan Lamun Ombak di Simpang Presiden Padang. Duduk di ruang VVIP dan menikmati kuliner khas kota Padang sampai kenyang.

Ketika perjalanan dimulai meunju Bukittinggi, persinggahan pertama adalah makan siang di Rumah Makan Aia Badarun di Padang Panjang (sebenarnya sudah masuk wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar). Disana kami makan siang dengan hidangan sambal khas ranah minang. Sambal lado hijau pakai bada dan patai. Ada juga sambal lado merah. Dua sambal ini pelengkap nikmatnya gulai tunjang, gulai paku, babek, rendang, dendeng dan hidangan istimewa lainnya. Minuman yang kami pilih adalah es kelapa muda dan jus mangga. Tempat makan siang ini sengaja dipilih karena ketika direncanakan sudah terbayang betapa nikmatnya makan siang di hawa dingin pegunungan yang membuka selera.

Sesampai di Bukittinggi, perut terasa masih kenyang. Untuk mengurangi energi supaya terasa lapar kembali, kami sepakat masuk lobang jepang atau goa jepang di Bukittinggi. Lumayan, naik turun tangga yang jumlahnya sulit dihitung karena saking banyaknya dan jalan kaki didalam lobang jepang sejauh ratusan meter membuat lelah. Tapi kami belum mencari makan apa-apa, kami meneruskan menikmati indahnya pemandangan Ngarai Sianok di Bukittinggi ini. Kebetulan masih satu lokasi dengan objek wisata lobang jepang.

Penasaran dengan indahnya pemandangan di dasar Ngarai Sianok yang dialiri sungai kecil dan sawah menghijau yang baru ditanami, teman dari Jakarta mengajak kami menuju dasar ngarai. Dengan mobil, kami pun mulai bergerak. Perkampungan dan sungai didasar Ngarai Sianok sering menjadi lokasi syuting film dan sinetron seperti Film Laga Merantau dan serial sinetron Anak Kaki Gunung.

Berhenti sebentar di tepi sungai yang dangkal dan terlihat dari atas tadi, tidak lama-lama karena ternyata sungainya tidak enak dipandang mata. Sampah plastik bertebaran disepajang sisi aliran sungai. Sampah kota Bukittinggi tentunya.

Agak menjauh dari tepian sungai, ada rumah makan khas gulai itiak (bebek) lado hijau. Rumah makan ini pernah menjadi tujuan wisata kuliner Pak Bondan si mak nyus itu. Satu porsi terdiri dari satu potong seharga 22 ribu rupiah. Hmmm mak nyus…. Bumbu khas padangnya terasa sedap, membuat lupa akan harganya yang tergolong “wah” untuk standar lokal.

Perjalanan dilanjutkan ke Jam Gadang, landmark nya Kota Bukittinggi. Lokasi ini tidak pernah sepi dari wisatawan dalam dan luar negeri. Segerombolan turis asing terlihat dipandu guide nya. Di Sumatera Barat, turis dari Eropa atau Amerika akan lebih mudah ditemui di Bukittinggi karena kota ini merupakan satu-satunya tujuan destinasi wisata yang paling banyak, favorit dan lokasinya yang saling berdekatan. Dari Asia, turis yang banyak datang adalah dari Malaysia.

Sebentar saja melihat Jam Gadang, kami naik ke pasar atas. Cuma cuci-cuci mata melihat isi toko pakaian, kain sulaman, kain tenun dan bordir khas Bukittinggi (yang kabarnya sebenarnya berasal dari Pariaman, Pandai Sikek dan Koto Gadang yang lebih terkenal dengan senin kerajinan perak). Kami lalu turun ke pasar tradisional yang terletak di belakang pasar atas atau sekitar jenjang empat puluh. Disana banyak makanan cemilan tradisional dijual seperti keripik balado dan aneka keripik lainnya. Kami menikmati legitnya pisang kapik yang baru saja diangkat dari panggangannya. Menikmatinya sambil jalan terus, melewati pasar lereng yang terkenal dengan santapan nasi kapau nya. Berhubung perut masih kenyang, kami tidak makan apa-apa disana. Kami juga tidak sempat ke Pasar Aur yang terkenal dengan pusat grosir murah untuk wilayah Sumatera bagian tengah itu.

Tanpa singgah ke Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock yang terkenal dengan jembatan Limpapeh nya, kami putuskan kembali ke Padang. Mengejar kuliner lain yang telah direncanakan. Bika Si Mariana dan makan Durian di Kayu Tanam.
Menyusuri jalan yang sama dengan keberangkatan tadi, kami singgah di tempat penjualan bika manis, Bika Si Mariana, indak dibali takana-kana :D. Hari menjelang sore dan hawa yang dingin dari gunung Marapi dan gunung Singgalang membuat bika ini semakin enak rasanya. Ditemani secangkir teh hangat pula, sambil mengarahkan pandangan ke Gunung Marapi.

Karena berburu waktu, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Padang. Seperti diawal berangkat tadi, di Lembah Anai kami hanya lewat saja tanpa berhenti di objek wisata air terjun. Cukup menikmati segranya udara Lembah Anai saja. Di Kayu Tanam, kami singgah di sebuah pondok tepi jalan yang menjual durian. Makan lagi, durian pakai ketan. Berhubung belum musimnya, harga durian yang kami makan lumayan mahal dibanding harga standar. Tapi rasanya betul-betul enak, lupa akan harganya jadinya.

Dengan perut kenyang, kami teruskan perjalanan ke Padang. Mengantuk dan capek membuat suasana di dalam mobil jadi sepi, semua diam. Ingin cepat sampai di Padang. Sesampai di Padang, bawaannya ingin langsung tidur karena capek dan ngantuk. Ingin meneruskan perjalanan wisata kuliner ke dalam mimpi :D.