Bonjol Banyak Simpan Wisata Sejarah dan Wisata Alam

Bonjol adalah tempat wisata sejarah serta wisata alam. Kenapa disebut wisata sejarah? Karena  begitu banyak peninggalan sejarah banyak kita temui di daerah tersebut, seperti Masjid Tuanku Imam, Benteng Tajadi, meriam, jubah kebesaran, dan pedang, badia balansa, amban tali, lesung tempat menumbuk mesiu, serta tambangnya di Lubuk Baru yang terletak di kejorongan Ganggo Mudiak. Tambang emas ini digunakan untuk membiayai serdadu Paderi pada masa itu.

Tokoh masyarakat Ganggo Mudiak, M.Taufik St Bandaro pada sumbarONLINE.com pada Minggu (2/1), mengatakan, bahwa ada pula nama daerah Bonjol hitam, kenapa dikatakan Bonjol hitam?

Sebab pada zaman Paderi dulu, Bonjol hitam itu dikatakan kaum adat, kaum adat itu memihak pada kolonial Belanda yang kerjanya mabuk mabukan, sabung ayam, pokoknya perbuatan yang bertentangan dengan Alqur’an dan Hadist, maka itulah dikatakan Bonjol Hitam yang berlokasi di dekat sungai Limau di kejorongan Kampung Tampang, kenagarian Ganggo Mudiak.

dengan terbenteng di Lubuk Ambacang sekarang, itulah benteng kolonial Belanda. “Kalau kita lihat makna sejarah Paderi tersebut mempunyai makna yang begitu luas. Untuk kita ketahui, khususnya orang Bonjol dimanapun berdomisili,” tuturnya.

Tentu kita sebagai orang Bonjol wajib mengetahui sejarah leluhur nenek moyang kita. Ibarat pepatah awak Minang, “jan jalan dialiah urang lalu, cupak aliah urang panggaleh”.

Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabulah, aplikasinya adat dengan sarak, seperti dua sisi mata uang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. “Makanya pada zaman dahulu surau tempat menuntut Ilmu dan begitu pula para lelaki yang telah baliq dan berakal mereka tidur di surau zaman dahulunya,” ucapnya.

Selanjutnya Bonjol banyak juga kita jumpai wisata alam seperti, ikan larangan Batu Hampar di kenagarian Kampung Hangus, air hangat tempat pemandian di kejorongan Padang Baru serta sarasah atau air mancur di kejorongan Kampung Tampang, Ganggo Mudiak.

“Semua ini adalah kekayaan aset pemerintah kabupaten Pasaman. Kalaulah di kelola dengan sebaik-baiknya tentu akan dapat menggenjot PAD, dan juga ekonomi masyarakat sekitarnya,” ujar Taufik. ZR