Sejarah Taman Budaya Sumatera Barat

Sejarah Taman Budaya Sumatera Barat

Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat berada di pusat kota Padang, tepatnya di Jalan Diponegoro nomor 31 Padang, Sumatera Barat. Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Samudera di pinggir Pantai Padang, salah satu tempat wisata terkenal di Sumatera Barat.

Sebelah timur dibatasi oleh Jalan Diponegoro berhadapan dengan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Museum “Nagari” Sumatera Barat. Bagian utara berbatasan dengan komplek asmara TNI dan komplek pertokoan, sedangkan di selatan dibatasi oleh Jalan Pancasila, berseberangan dengan kampus Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Dulunya, areal seluas ± 2 Ha tersebut dimanfaatkan sebagai sarana olahraga, khususnya bolakaki, yang dikenal dengan Lapangan Diponegoro.

Pada tahun 1972, Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Padang, memanfaatkan areal tersebut sebagai lokasi Padang Fair. Padang Fair yang di rancang sebagai ajang promosi dagang dan industri tahunan tersebut dimanfaatkan pula untuk menampilkan berbagai macam atraksi kesenian, baik kesenian tradisi maupun kesenian modern.

Padang Fair adalah semacam pasar malam yang berlangsung selama satu bulan. Selain pameran dagang, di lokasi tersebut digelar pula pertunjukan kesenian, mulai dari randai, tari piriang, saluang dendang, dan lain sebagainya. Di panggung utama Padang Fair, sekarang teater terbuka, digelar pertunjukan kesenian modern seperti band, kim, dan tari-tarian modern lainnya. Padang Fair hanya terselenggara pada tahun 1972 dan 1973. Bangunan dan fasilitas lain bekas pelaksanaan Padang Fair tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh para seniman untuk berkarya.

Tumbuhnya tempat itu menjadi fasilitas kesenian di Padang sangat menggembirakan. Beberapa seniman dan budayawan Sumatera Barat, kemudian mengusulkan kepada Pemerintah Kotamadya Padang, agar menjadikan lokasi itu sebagai Pusat Kesenian Padang. Upaya tersebut diprakarsai antara lain oleh Chairul Harun (sastrawan), AA Navis, M. Yusfik Helmi (wartawan), Bagindo Fahmi (budayawan), Leon Agusta (sastrawan) dan Roestam Anwar (pengusaha). Upaya tersebut didukung pula oleh para seniman seperti BHR Tanjung (dramawan), Wisran Hadi (sastrawan), Umar Junus (budayawan) dan Arby Samah (perupa). Juga para seniman muda yang mulai mempergunakan area tersebut untuk proses berkeseniannya.

Tahun 1975, Pemerintah Daerah Tingakat II Kotamadya Padang sepakat untuk mendirikan Pusat Kesenian Padang (PKP) di areal dan bangunan yang sebelumnya digunakan untuk Padang Fair itu. Lembaga ini diketuai oleh Mursal Esten, sastrawan dan kritikus yang kemudian menjabat Ketua Akademi Seni dan Karawitan Padang Panjang. Mursal Esten adalah guru besar Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang) di bidang sastra Indonesia.

Hadirnya Taman Budaya berawal dari strategi pembangunan kebudayaan nasional yang diarahkan kepada pembinaan dan pengembangan kesenian sebagai ungkapan budaya bangsa, yang diusahakan agar mampu menampung, menumbuhkan daya cipta para seniman, memperkuat jati diri bangsa, meningkatkan apresiasi dan kreatifitas seni masyarakat, memperluas kesempatan masyarakat untuk menikmati seni budaya bangsa serta memberi inspirasi dan gairah dalam membangun. Kesenian perlu digali, dibina, dikembangkan dan dilestarikan untuk memperkaya keanekaragaman budaya bangsa.

Untuk mencapai sasaran ini diperlukan suatu lembaga yang mengurus kesenian , seniman dan penikmat seni. Lahirlah Taman Budaya di provinsi-provinsi di Indonesia dengan dasar pendirian antara lain : Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0276/0/1978 tanggal 1 April 1978 tentang pendirian Taman Budaya di Indonesia; Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 428/0/1978 tanggal 1 April 1978 tentang Tugas dan Fungsi Taman Budaya; dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0221/0/1991 tanggal 23 April tentang penyempurnaan struktur organisasi kantor/satuan kerja.

Pada waktu pembentukannya, Taman Budaya Sumatera Barat (lebih dikenal dengan nama Taman Budaya Padang), sebagaimana halnya Taman Budaya lainnya di Indonesia, menjadi Unit Pelaksana Teknis Kebudayaan, di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Taman Budaya Sumatera Barat mengemban tugas utama untuk melaksanakan pengembangan kebudayaan daerah di provinsi.

Sejalan dengan bergulirnya otonomi daerah, pengelolaan Taman Budaya diserahkan kepada Pemerintah Daerah (Provinsi) masing-masing. Dari posisinya sebagai Unit Pelaksana Teknis Pusat berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah. Taman Budaya Sumatera Barat merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat.

Saat ini Taman Budaya Sumatera Barat tetap eksis dan telah mendorong terciptanya iklim berkesenian yang kondusif. Berlangsungnya hal ini tercipta tidak terlepas dari dukungan dari berbagai pihak (masyakat seni dan Pemerintah Daerah), serta ditunjang oleh prasarana yang memadai seperti gedung pertunjukan dan galeri seni rupa yang representatif.

Semoga di masa yang akan datang, iklim ini akan tetap terjaga dan keberadaan Taman Budaya Sumatera Barat akan lebih bermakna dalam kreatifitas dan inovasi seni budaya di Sumatera Barat serta dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.

(Diolah dari Profil taman budaya Dinas Pariwisata Sumbar – 2014)