Metadomus, Dialektika Akal dalam Gubahan Musik


PADANG – Tanggal 17 November 2016. Metadomus tampil sebagai pembuka Kaba Festival +3. Kelompok musik dari Jakarta yang biasanya terdiri dari lima orang personil inti, hanya tampil seorang diri saja dalam iven tahunan di Ladang Tari Nan Jombang.

Dalam bermain tunggal sama sekali tidak mengurangi kekayaan musik yang dihadirkan oleh Syahrial Tando. Komposer sekaligus pemusik yang menjadi perwakilan Metadomus ini melalui penguasaannya terhadap beragam jenis instrumen, ia membawakan sebuah komposisi musik berjudul Aka Bagaluik.

Syahrial memainkan beragam jenis instrumen tersebut. Dan Suatu ketika menghasilkan rhytm dengan melodi secara bersamaan, kadang memainkan instrumen sambil berdendang. Pada pembuka pertunjukan misalnya, Syahrial meniup dua buah pupuik sarunai sekaligus, menghasilkan rythm dan melodi dalam satu tarikan nafas.

Ia memainkan empat buah canang sambil melantunkan dendang pauh, salah satu varian dendang dari daerah darek Minangkabau. Ia juga memainkan ginggong sambil berdendang, suatu eksperimentasi yang belum pernah ditemukan dalam khazanah musik Indonesia, baik tradisi maupun modern.

Syahrial Tando memang bermain sendirian, tetapi tak urung membuat karyanya menjadi monoton. Meskipun sendirian, selalu muncul susunan nada yang seolah beragam dan berdialektika. Sebagaimana konsep musik yang dia usung aka bagaluik, ragam bunyian yang dihasilkan memberi pemahaman bahwa seorang manusia pertama kali berinteraksi, bermain-main, atau bergelut dengan akalnya sebelum berinteraksi dengan orang lain, khalayak, atau masyarakat.

Syahrial seolah menyuarakan solilokui, pikiran seorang manusia yang sedang berinteraksi dengan dirinya sendiri, melalui teknik memainkan dua elemen secara bersamaan itu. Dendang pauah yang diadopsi kemudian dikembangkan oleh Syahrial dalam komposisi Aka Bagaluik, menjadi penghubung antara karya yang ditampilkannya dalam Kaba Festival +3 ini juga memiliki Pada satu sisi, kaba memang berarti sebuah kisah atau peristiwa yang dikabarkan, pada sisi lain, kaba memiliki sifat luwes yang senantiasa menjadi bagian integral dalam berbagai jenis tradisi lain.