Batu Batulis di Bukit Gado-gado Padang


Padang – Kelurahan Mato Aia Kecamatan Padang Selatan Kota Padang-Sumbar masih menimbulkan misteri. tetang keberadaan Batu Batulis, namun diyakini bukan batu biasa, tapi merupakan batu prasasti yang sagat sejarah.

Sebenarnya keberadaan Batu Batulis ini pernah disinggung Rusli Amran dalam bukunya berjudul ‘Plakat Panjang’ terbitan tahun 1981. Namun entah kenapa, keberadaan batu tersebut tidak banyak diketahui orang, hingga akhirnya tim peneliti independen asal Padang menemukan keberadaan batu tersebut setelah mendapatkan informasi dari masyarakat pada 2013 silam.

Aulia Rahman yang juga merupakan aktivis Rangkiang Budaya mengatakan tim menemukan Batu Prasasti dalam kondisi ditutupi semak-semak yang terletak berada di dekat sebuah pohon besar. Menurutnya, dilihat sepintas pada Batu Prasasti terlihat motif ukiran, namun setelah dibersihkan dari lumut dan kotoran terlihat jika motif tersebut berbentuk aksara.

Akan tetapi kondisi aksara itu sulit untuk dibaca. Dalam dunia Arkeologis ada beberapa faktor kondisi tersebut dapat terjadi. Pertama karena vandalisme (perlakuan manusia yang mengakibatkan dampak negatif) atau kedua terjadi pelapukan oleh alam.

Batu ini memiliki panjang sekitar 1.5 meter dan lebar 1 meter. Batu Prasasti tersebut tertancap ke dalam tanah, sementara ketinggian dari permukaan tanah lebih kurang sekitar 50 hingga 70 sentimeter. Namun Aulia Rahman belum bisa memastikan prasasti ini peninggalan siapa dan apa tulisan yang tertera di prasasti itu.

“Secara dimensi, bagian ujung (puncak) batu tidak rata. Kondisi prasasti ini telah mengalami vandalisme sehingga sangat sulit untuk diidentifikasi tulisannya,” kata alumnus Ilmu Sejarah Universitas Andalas (Unand) Padang itu.

“Dengan mengunakan teknis sederhana kami mencoba untuk menerka–nerka susunan aksara dan jenisnya yang tertulis pada permukaan batu sehingga diketahui memiliki pola tulisan dan jenis aksara. Terdapat dua aksara, simbol dan angka pada batu prasasti. Aksara terdiri dari Aksara Palawa, Aksara Modern, dan angka modern,” sambung Aulia Rahman.

Ia melanjutkan, gambaran aksara pertama memang mirip Aksara Palawa yang terdiri dari beberapa baris, dengan karakter banyak tautan-tautan berlekuk pada bagian atas aksara. Akan tetapi ini belum dapat dipastikan bahasa yang terkandung di dalamnya adalah Bahasa Sankserta. Kemudian ada Simbol Pentagram (lambang segi 6), huruf dominan W dan V pada masing-masing sisi dengan penempatan secara acak.

Sementara itu, Arkeolog Museum Nasional Indonesia Alfa Noranda juga membenarkan temuan ini. Ia
mengatakan temuan ini sudah disampaikan ke BPCB Batu Sangkar, Museum Adityawarman, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, namum belum ada respon sampai saat ini.