English Version!Travel and Tourist Information Sumatera Barat

Bertemu di Makam Imam Bonjol

1658276-makam-imam-bonjol-620X310ORANG Minangkabau menyebut ”Awak Badusanak”, sedangkan orang Minahasa mengatakan ”Torang Samua Basudara”. Semangat persaudaraan bergelora saat tokoh dan masyarakat berbeda etnis itu bertemu di makam Imam Bonjol, November 2012 lalu.

Tuanku Imam Bonjol, ulama berpengaruh di Sumatera Barat yang gigih melawan penjajahan Belanda dalam perang Padri (1821-1837), menjadi titik temu warga Minahasa-Minangkabau. Imam Bonjol diasingkan jauh dari ranah Minang ke Desa Lota, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, lalu meninggal dan dimakamkan di sana.

Banyak cerita antara Minahasa dan Minangkabau. ”Orang Padang dan orang Manado jika bercakap pasti gembira. Orang Padang suka bergurau, orang Manado bakusedu,” kata Azwar Anas, tokoh masyarakat Minangkabau pada malam keakraban dengan Gubernur Sulut SH Sarundajang di Manado. Azwar Anas serta ratusan warga dan tokoh adat Minangkabau berkunjung ke Manado dalam rangka ziarah ke makam Imam Bonjol.

Sarundajang menimpali pernyataan Azwar, yang mengakui kegigihan orang Minang dalam berdagang karena hampir semua pelosok Nusantara banyak ditemui rumah makan Padang. ”Masih ada kerja sama dengan kita di sini. Orang Minang berjualan, orang Minahasa menjadi pembelinya,” ujarnya, yang disambut tawa hadirin.

Djumaris, Ketua Masyarakat Minangkabau Bundo Kanduang Anda Kasuma Nusa di Sulut menyebutkan, di Manado terdapat 1.000 warga Minang yang sebagian membuka usaha rumah makan. Terdapat tak kurang dari 50 rumah makan Padang di Manado.

Rumah makan Padang itu mengikuti selera orang Minahasa, dengan menambah dabu-dabu dalam masakannya dengan bumbu cabe rawit. Rasanya lebih pedas daripada yang biasa dimakan orang Padang.

”Makanan mengikuti budaya Minahasa. Torang (kami) beruntung memiliki Tuanku Imam Bonjol yang diterima baik oleh orang Minahasa. Seperti tinggal di Tanah Minang sendiri,” kata Djumaris.

Perekat Nusantara

Zulfani Burhan, Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan Kebudayaan Alam Minangkabau, mengatakan, konstruksi masyarakat Minangkabau dan Minahasa mirip karena tak mengenal sistem kerajaan. Masyarakat egaliter.

Oleh karena itu, di Minangkabau, terkenal pepatah, pemimpin hanya selangkah di depan (yang dipimpin). Masyarakat di Minahasa demokratis-dinamis.

Zulfani menyebutkan, sikap Belanda yang mengasingkan Imam Bonjol ke Minahasa agar dibunuh ternyata salah. Imam Bonjol diterima baik oleh warga Pineleng, yang kemudian menjadi pengikat wilayah Nusantara.

Zulfani dan segenap tokoh Minangkabau pun menyatakan, makam Tuanku Imam Bonjol tak perlu dipindahkan ke tanah Minang. Dulu sempat ada wacana dari Bupati Pasaman, sebagai daerah asal Imam Bonjol, untuk memindahkan makam pahlawan nasional itu. ”Kami menentang hal itu, kecuali jika kami datang ke Minahasa memakai paspor,” katanya.

Sarundajang juga ”melarang” tokoh Minangkabau mengeluarkan dana untuk merenovasi makam Imam Bonjol. Imam Bonjol sudah menjadi ”orang Minahasa” karena sempat hidup di Lota, Pineleng, selama sekitar 20 tahun sebelum wafat pada 6 November 1864.

”Tuanku Imam Bonjol juga pahlawan kami. Pemerintah provinsi (Sulut) sudah menganggarkan dana untuk renovasi makamnya,” katanya.

Penjaga makam

Makam Imam Bonjol berada di lahan seluas 75 meter x 20 meter. Suasana di makam ini sejuk sebab terlindung oleh pohon rimbun. Pusara Imam Bonjol berada dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau, berukuran 15 meter x 7 meter. Di atas pusara bertaburan aneka bunga. Tempat ini tak pernah sepi dari peziarah.

Di bagian belakang bangunan makam mengalir Sungai Malalayang. Dengan menuruni anak tangga, di tepian sungai ini, terdapat batu kali yang dipakai Imam Bonjol sebagai tempat melaksanakan shalat selama di pengasingan.

Batu kali itu berukuran sekitar 2 meter x 0,5 meter dengan tinggi sekitar 0,5 meter. Terdapat beberapa cekungan pada bagian batu itu. Cekungan itu antara lain bekas kening Imam Bonjol saat bersujud. Juga ada bekas dua tapak tangan dan bekas tempat duduknya.

Ainun Minggu (67), yang sehari-hari bertugas sebagai penjaga makam Imam Bonjol, bergembira atas kedatangan banyak orang Minangkabau. Ia menyebutnya sebagai saudara.

Ainun, adalah cicit dari Apolos Minggu, pengawal Imam Bonjol saat dalam pengasingan. Apolos menikahi Mengky Parengkuan, gadis asal Pineleng. Di Lota, Pineleng, Imam Bonjol berkebun dan menjadi guru agama.