Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Candi Muara Takus

Menikmati sejarah tanpa melihat dengan mata kepala sendiri, tentunya belum cukup. Kalau kita ingat dengan sejarah bahwa bangsa Indonesia mengalami zaman emas kejayaannya sebanyak 3 zaman yakni Kerajaan Sriwijaya yang merupakan negara kesatuan Indonesia I, Kerajaan Majapahit sampai negara kesatuan Indonesia II dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekarang sebagai negara kesatuan III.

Lupakan dulu kerajaan Majapahit dan NKRI yang telah disepakati sejarah serta lokasinya. Walaupun banyak para peneliti dan ahli sejarah dari berbagai negara terus menggali dimana sebetulnya pusat kerajaan Sriwijaya, sudah sepantasnya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia mengaminkan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya ada di beberapa titik wilayah Sumatera, salah satunya di Candi Muara Takus yang desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar.

Walaupun masuk dalam provinsi Riau, jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Sementara, dari kota Payakumbuh, Sumbar hanya berjarak 50 kilometer dengan waktu tempuh 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Pilihan yang tepat. Setelah puas menikmati Lembah Harau atau objek wisata lainnya di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, di kompleks candi yang berpusat di desa Muara Takus kita akan disuguhi sisa-sia kejayaan kerajaan Sriwijaya.

Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter. Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan candi Tua, candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Di sini akan kita temukan bangunan candi yang terbuat dari tanah liat dan tanah pasir.

Menurut para ahli, bahan yang digunakan di candi ini lebih tua metodenya dibandingkan dengan candi yang ada di Jawa yang menggunakan batu dari pegunungan. Jika terus mengikuti sejarah pembuatan candi, diketahui bahan pembuatan candi diambil dan desa Pongkai yang terletak lebih kurang 6 km dari candi. Nama Pongkai berasal dari Cina “Pong” berati lobang dan “Kai” berarti tanah. Maksudnya lubang tanah yang diakibatkan oleh penggalian untuk pembuatan candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian tersebut tidak dapat kita temukan lagi karena sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang di perbatasan Sumbar-Riau.

Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Sebab, untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Walaupun cerita ini belum pasti kebenarannya, gambaran ini menunjukkan bahwa pembangunan candi ini dilakukan secara bergotong royong.

Selain dari candi Tua, candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks juga ditemukan gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan bekas yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

Candi yang tergolong Budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendati demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada pendapat yang mengatakan abad ke-11, ada yang mengatakan abad ke-4, abad ke-7, abad ke-9 dan sebagainya.

Namun yang jelas, terlepas dari perdebatan kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam yang dibangun dengan gotong royong. Perdebatan yang beredar, orang Thailand mengatakan bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Siam (Pattani-Pattaya), Thailand Selatan. Sementara, orang Vietnam mengatakan pusat kerajaan Sriwijaya berada di Teluk Tonkin, dan diantara sejarawan Malaysia berpendapat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya kemungkinan berada di Kedah.

Sementara peneliti Birma mengatakan pusat kerajaan Sriwijaya berada di Yangoon. Saling adu pendapat, saling adu argumen sambil saling unjuk bukti, tapi bukti yang terkuat mereka temukan hanya berupa menhir, pundan berundak-undak, prasasti, arca atau artifak lainnya, tidak ada bukti kuat dan itu, termasuk bukti yang mengatakan Palembang atau Jambi sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.

Sejauh ini, semua asumsi tersebut patut kita ragukan dan kita pertanyakan. Buku sejarah yang telah terlanjur mengatakan itu dan lebih parah lagi kita, sebagai generasi penerus terlanjur mengaminkannya panjang-panjang. Ibarat pepatah “Jalan lah dilalui dek urang lalu, cupak diambik dek panggaleh, cako dijua dek sumando”. Tidak seharusnya kita kehilangan jejak untuk menemukan jati diri kita bukan. Kenapa tidak hargai saja peninggalan sejarah dengan cita rasa gotong royong ini.(*)