English Version!Travel and Tourist Information Sumatera Barat

Perlu Perhatikan Konsep dan Srategi Pengusaha Homestay

Wali Kota Bukittinggi Erman Safar mengatakan, pengembangan homestay sebagai salah satu UMKM pendukung destinasi wisata. Hal itu disampaikan Wako dalam acara Worskshop Pengembangan Homestay sebagai UMKM Pendukung Destinasi Wisata bersama anggota DPR RI Komisi VI, Nevi Zuairina Irwan Prayitno dan para pemilik homestay di kota itu, di Aula Istana Bung Hatta, Jumat (2/7/2021).

Dilnjutkan Wako, sebanyak 75 unit homestay diBukittinggi diniliai belom cukup mengakomor tingkat kunjungan wisata. Sehingga, Pemerintah Kota Bukittinggi (Pemko) melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) perlu mencari sebuah kawasan. Kawasan tersebut nantinya diberdayakan bersama dan dilengkapi sarana prasarana namun unitnya dimiliki oleh pengusaha homestay dilansir dari Metrokini.com.

“Kita sangat berterima kasih kepada pengusaha homestay telah menyikapi pertumbuhan kunjungan wisata. Nanti, kita bersama Disparpora berserta dinas terkait lainnya mendorong dibangunnya kawasan homestay. Jika hal tersebut terealisasi akan digunakan sarana dan prasarana bersama serta unit-unitnya dimiliki owner homestay,” ucapnya.

Menurut Wako, Wako mengetahui dan mengalami dunia penginapan disebabkan punya sektor usaha yang hampir sama dengan keberadaan homestay. Erman memiliki usaha penyediaan kamar kos di Kota Bandung. Hanya saja kamar kos itu diperuntukan bagi para mahasiswa.

Wako mengatakan, masa pandemi virus corona saat ini, dari keberadaan 2.200 kamar kos-an berdampak terhadap kekosongan sekitar 1.400 kamar. Hal ini terjadi, lantaran pemberlakuan pembatasan aktivitas dan mobilitas warga, termasuk penerapan pembelajaran daring di perguruan tinggi. Namun, mencermati situasi demikian, dirinya tetap optimis dan mengambil makna dari musibah non alam yang dialami bangsa Indonesia.

“Saya sama seperti bapak dan ibu punya usaha, tapi bukan homestay. Saya punya kos di Bandung sebanyak 2.200 kamar. Biasanya sebelum pandemi Covid-19 waiting listnya penuh dan semua kamar terisi. Akan tetapi, saat ini, sekitar 1.400 kamar kosong, mahasiswa tidak kuliah tatap muka di kampus dan ada kebijakan serta kondisi di Kota Bandung,” sebutnya.

Wako mengingatkan, bahwa pengusaha homestay jangan semata mengandalkan bangunan, namun tetap memperhatikan dan memperhitungkan konsep serta strategi pasar.

“Perlunya memperhitungkan konsep dan srategi pasar tersebut bertujuan agar kunjungan tetap bertahan sehingga menimbulkan kepercayaan orang lain untuk memilih homestay,” katanya.

Sekedar informasi, di Bukittinggi ada 75 homestay. Penginapan tersebut tersebar di berbagai lokasi dala kota. Tahun sebelumnya, pertumbuhan kunjungan berada pada angka 1.392.000 orang. Angkat itu dilihat dari data tiket berbayar yang dipungut di destinasi wisata dan pajak perhotelan, kemudian dihimpun oleh Pemko.