Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Puncak Talamau

Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), boleh dikatakan masih tergolong
Kabupaten baru, dibanding Kabupaten lainnya yang lebih dulu berkembang,
kendati demikian Pasbar juga memiliki berbagai potensi alam yang tidak
tidak kalah indahnya dengan Kabupaten lain yang berada di Sumatra Barat
(Sumbar).

Dengan,
potensi wisata alam Gunung Talamau  dan Gunung Pasaman membuat Pasaman
Barat menjadi lebih perkasa, dan seolah-olah  seperti raksasa bangun
dari tidur, dengan harapan dapat mensejajarkan diri dengan Kabupaten
lainnya di Sumbar.

Gunung Talamau nan megah, terletak di
Jorong Pinagar  Nagari Aur Kuning Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasbar,
kayu yang manjulang tinggi menandakan Gunung Talamau memang masih asri.
Mempunyai ketinggian sekitar 2900 km diatas permukaan laut,  Talamau
didampingi Puluhan Air terjun, serta puncaknya dihiasi belasan telaga
dan dikelilingi hamparan warna-warni bunga membuat keindahan Gunung
Talamau semakin memikat hati.

Dari penelusuran media ini,
bersama Kelompok Pecinta Alam (KPA) Ghaber Ophir Pasbar, selama empat
hari di Gunung Talamau, tahap awal untuk melakukan perjalanan menuju
puncak G Talamau dapat dimulai dari pusat Kota Kabupaten Pasbar yakni
Bundaran Simpang Empat Kecamatan Pasaman.

Dengan menggunakan
kendaraan roda dua atau empat menuju  Simpang Pintu Air irigasi di
Pinagar, persis di kaki gunung tersebut kemudian baru diteruskan dengan
berjalan kaki dengan rute pendakian yang cukup menantang memakan waktu
hingga mencapai sekitar 1 jam,

Kemudian kami mencapai selter
pertama yakni Bukit Harimau Campo, di bukit Harimau Campo ini para
pendaki dapat bermalam dengan mendirikan tenda, atau hanya sekedar
melepas lelah sejenak. Sambil menikmati keindahan dengan memandang
lepas bagaimana tatanan Kota Simpang Empat, dan indahnya matahari sore
yang tenggelam di Pantai Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pasisia.

Selain
beristirahat sambil menikmati pemandangan indah dari Bukit Harimau
Campo sekitar 100 meter pendaki juga dapat menikmati indahnya air
terjun Lenggogeni. Kabarnya air terjun tersebut mempunyai legenda yang
menarik untuk diketahui, konon air terjun Lenggogeni merupakan tempat
pemandian para putri raja pada zaman dahulu.

Usai beristirahat
di bukit Harimau Campo, perjalanan kemudian diteruskan menuju selter
kedua biasa disebut para pendaki Rindu Alam. Dengan menempuh perjalanan
sekitar 4 jam, para  pendaki harus ekstra hati-hati sebab untuk menuju
Rindu Alam harus  melewati beberapa anak sungai dengan bebatuan yang
licin. Jalan setapak yang menantang serta ditambah binatang penghisap
darah yakni pacet (sejenis Lintah) yang siap menempel dan menghisap
darah para pendaki.

Selain beristirahat dan mengisi air untuk
perbekalan minum ke selter selanjutnya, di kawasan Rindu Alam pendaki
dapat juga memeriksa pacet yang menempel dikaki atau ditangan.

Sementara
dari Rindu Alam menuju selter ketiga atau Bumi Sarasah perjalanan
pendakian akan memakan waktu sekitar 6 jam.  Setelah mencapai Bumi
Sarasah, kemudian para pendaki akan menjelajahi pendakian yang paling
menantang yakni rute menuju  Paninjauan atau selter kelima. Dengan
jalan bebatuan yang terjal di sini pendaki akan semakin teruji kalau
tidak hati-hati akan tergelincir karena bebatuan yang terjal dan licin.
Perjalanan dari Bumi Sarasah  menuju Paninjauan memakan waktu sekitar 4
jam

Setelah melakukan pendakian yang bertahap mulai dari
selter 1, 2, 3 dan 4, akhirnya sampai di Padang Siranjano, tidak lupa
kami mengucapkan “Assalamu?alaikum”  ketika memasuki Kawasan tersebut.
Disini terdapat belasan telaga. Seperti Talago Biru, Talago Rajo
Bagindo, Talago Puti, Talago Lumuik dan talago lainnya.

Setelah
satu hari berjalan akhirnya cita-cita  tercapai, yakni sampai di puncak
tertinggi atau TOP Talamau Puncak Rajawali. Ketinggian sekitar 2900
meter diatas permukaan laut. Di Puncak Talamau ini letih, lelah tak
terasa lagi. Indahnya alam menjadi obat bagi kami, indahnya ciptaan
tuhan memang tiada duanya sejauh mata memandang.

“Talamau Aku
Cinta Kamu” setelah puas memandang alam beba
s dari Puncak Talamau, kami
mengambil foto. Setelah itu kami kembali dengan memakan waktu sekitar 6
jam untuk ke kota Simpang Empat. (*)