Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Segera Dibuka, Seperti Ini Penampakan Banto Royo Agam yang Memukau

Agam – Bagi anda pencinta wisata air, ada salah satu tempat yang direkomendasikan masuk dalam agenda kunjungan wisata. Destinasi itu adalah Taman Bermain Banto Royo, berlokasi di Jorong Kaluang Tapi, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Agam, Sumbar.

Namun harap bersabar, karena tempat ini masih dalam proses pengerjaan. Rencananya, pada September mendatang tempat ini baru akan dibuka secara resmi.

Meski belum dibuka, namun banyak pengunjung yang berdatangan tanpa bisa dicegah. Foto-foto yang menceritakan keelokan wisata air ini bertebaran di media sosial. Rata-rata pengunjung berfoto di sepanjang jembatan air dengan latar belakang pohon cingkariang.

Alam sekeliling objek ini, sangatlah elok. Di depan, serta bagian kanan, terhampar luar areal persawahan Kamang yang permai hingga jejeran bukit barisan yang menjulang. Di bagian kirinya, Banto Royo tinggal berdampingan dengan objek wisata masyhur lainnya Telaga Tirta Sari Songsang.

Banto Royo, merupakan kawasan rawa atau dalam bahasa lokal disebut Bancah dengan luas 6,2 hektare, yang saat ini disulap menjadi kawasan wisata. Kawasan ini “tertidur” sejak tahun 1983 dan tak lagi digarap menjadi areal persawahan karena terlalu berair. Tempat ini berada di kaki bukit yang bernama Lakuang.

Dulunya, tempat ini menjadi rawa liar yang dihuni burung belibis dan beraneka jenis satwa air lainnya. Pada tahun 2015 lalu rawa ini betul-betul tak bisa dikunjungi, sebab tanahnya terlalu lempung. Jika berjalan di atasnya, kita akan bergoyang-goyang, kemungkinan buruknya bisa tenggelam.

Belasan pohon-pohon Cingkariang yang berada di ujung rawa atau di kaki Bukit Lakuang, tampak sangat seram sekaligus awut-awutan. Di puncak Cingkariang ini, kadang-kadang ribuan belibis setiap sore harinya berkumpul dan bercengkrama menimbulkan suara yang membikin bulu kuduk berdiri.

Bekerjasama dengan salah satu tokoh Nasional asal Kapau, Andi Sahrandi, lahan itu kemudian digarap secara bersama dengan Ardinal sebagai pengelola dan pemilik lahan. Penggarapan itu juga dibantu sumber daya lokal lainnya.

Saat ini, deretan pohon cingkariang ini dimodifikasi Ardinal cs. Bagian yang tak perlu langsung dipangkas. Cingkariang yang dulu kesannya menyeramkan, perlahan menjadi “imut” serupa hutan bakau di pesisir Pantai Pariaman.

Perubahan lainnya, rawa juga sudah dibersihkan dari segala gulma. Segala sumber air menuju luar rawa, ditutup rapat sehingga airnya terisolasi dan membentuk semacam genangan seperti danau kecil.

“Ini fokusnya ke wisata air, 80 persen kawasannya perairan, rasanya cuma kita yang punya konsep begini,” sebut Ardinal

Setelah semuanya dibersihkan dan ditata sedemikian rupa, jembatan atau jalan dibangun di atas air dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter dari bahan perkayuan agar pengunjung bisa menjelajahi kawasan ini, termasuk di depan pohon-pohon cingkariang.

Panjang jalan itu mencapai 1 kilometer. Di beberapa titik, juga dibangun jembatan besi untuk penghubung sebanyak 12 unit dan saung-saung kecil sejumlah 9 unit.

Fasilitas penunjang pun juga tengah dikebut. Yang sudah terlihat selesai dan mencolok, yakni Flying Fox dengan areal jelajah sejauh 185 meter yang membelah Banto Royo dari udara.

“Ini untuk dewasa, untuk anak-anak kita siapkan pula beberapa flying fox,” beber Ardinal.

Ia juga mengatakan, wahana lain yang sedang dikerjakan berupa lapangan lumpur, perahu air, seluncur air, dan tentu saja kolam air, maupun fasilitas penunjang seperti mushola, parkir dan restoran.

“Setiap titik nantinya ada cctv, ini kawasan wisata syariah, kita tak ingin ternoda akibat ulah-ulah nakal,” sebutnya.

Nantinya, jika objek wisata ini berhasil mendapat tempat di hati pengunjung, sebanyak 30 persen hasilnya akan disumbangkan ke masjid lokal.

“Kita perkirakan, dalam tahap awal, akan menambah sebanyak 90 lapangan kerja di sini, semoga berhasil kita wujudkan,” tutupnya.

Jika ingin berkunjung ke Banto Royo, jaraknya hanya 10 kilometer dari Bukittinggi. Rute termudah, dapat diambil dari Simpang Gaduik. Dari sana, anda tinggal lurus ke bawah. Setelah melewati jalan aspal yang bisa ditempuh roda dua maupun empat selama 10 menit, anda akan sampai dipertigaan Jorong Lakuang Tapi, ambil arah kiri dan sampailah di lokasi.

Sepanjang perjalanan, kita akan melihat areal persawahan luas menyejukkan mata. Tentunya, jika tempat ini rampung, tampaknya akan meyedot banyak pengunjung.

Sumber : klikpositif, 📷: padek.co